Sabtu, 03 Desember 2016

LANDASAN PEMBELAJARAN



MAKALAH

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERHADAP BERLANGSUNGNYA
PROSES BELAJAR MENGAJAR DALAM KELAS







Oleh :
RIWANCA
16 11 002





SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU NEGERI
TAMPUNG PENYANG (STAHN-TP) PALANGKA RAYA
PASCASARJANA PRODI MEGISTER PENDIDIKAN AGAMA HINDU
TAHUN 2016






KATA PENGANTAR

Om Swastyastu..
Tabe Salamat Lingu Nalatai Salam Sujud Karendem Malempang.
Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Ranying Hatalla/Sang Hyang Widhi Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat Asung Krtha Waranugraha-Nya lah sehingga dapat terselesainya pembuatan Tugas Makalah yang berjudul “Faktor yang Mempengaruhi Terhadap Berlangsungnya Proses Belajar Mengajar dalam Kelas” tepat pada waktunya.
 Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Proposal Skripsi ini tentu masih banyak kekurangan, sehingga masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan  adanya saran serta kritik yang dapat membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kaksih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan Proposal Skripsi ini dan mohon maaf atassegala kesalahan serta kekurangannya. Semoga ilmu pengatahuan yang baik datang dari segala penjuru arah.
Om Santy Santy Santy Om
Sahey ...

Palangka Raya,    November  2016
Penulis,




BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang
Belajar adalah suatu proses yang menimbulkan terjadinya suatu perubahan atau pembaharuan dalam tingkah laku atau kecakapan. Sampai dimanakah perubahan itu dapat tercapai atau dengan kata lain, berhasil baik atau tidaknya belajar itu tergantung kepada bermacam-macam faktor. Secara umum faktor-faktor yag mempengaruhi proses hasil belajar dibedakan atas dua kategori, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Belajar sebagai syarat mutlak untuk membuat orang pandai dalam semua hal, baik dalam hal ilmu pengetahuan maupun dalam hal bidang keterampilan atau kecakapan Seorang bayi misalnya, dia harus belajar berbagai kecakapan terutama sekali kecakapan motorik seperti belajar menelungkup, duduk, merangkak, berdiri atau berjalan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita melakukan banyak kegiatan yang sebenarnya merupakan “gejala belajar” dalam arti mustahillah melakukan kegiatan itu kalau kita tidak belajar terlebih dahulu.
Terdapat bermacam-macam  hal yang menyebabkan siswa tidak belajar seperti siswa yang enggan belajar karena latar belakang keluarga, lingkungan, maupun situasi dan kondisi di kelas. Ada siswa yang sukar memusatkan perhatian ketika Guru mengajarkan topik tertentu adapula siswa yang giat belajar karena dia bercita-cita menjadi seorang ahli. Keadaan tersebut menggambarkan bahwa pengetahuan tentang masalah-masalah belajar dalam faktor-faktor belajar merupakan hal yang sangat penting diketahui bagi seorang Guru dan calon Guru.



B.            Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka rumusan masalah sebagai berikut :
1.           Apa yang dimaksud dengan Proses Belajar Mengajar?
2.         Apakah yang menjadi Faktor Pengaruh  terhadap Proses Belajar Mengajar di dalam Kelas?



C.           Tujuan Dan Manfata Penulisan
1.             Tujuan Penuisan
Penulisan ini bertujuan untuk  untuk memperoleh pengetahuan tentang definisi mengenai Proses belajar mengajar, kemudian bertujuan  untuk memperoleh pengetahuan  tentang definisi mengenai Proses Belajar Mengajar,  dan bertujuan untuk memperoleh  pengetahuan tentang faktor yang mempengaruhi terhadap berlangsungnya proses belajar mengajar di kelas.



2.         Manfaat Penelitian
Secara teoritis penelitian ini mempunyai manfaat memberikan informasi mengenai pengertian faktor yang mempengaruhi terhadap berlangsungnya proses belajar mengajar di kelas. Secara  Praktis penulisan ini mempunyai manfaat yaitu dapat digunakan untuk mengetahui definisi proses belajar mengajar, dapat digunankan untuk mengetahuai faktor yang mempengaruhi dalam  proses belajar mengajar di kelas.





BAB II
PEMBAHASAN
A.           Pengertian Proses Belajar mengajar
Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar. Interaksi dalam peristiwa belajar mengajar mempunyai arti yang lebih luas, tidak sekedar hubungan antara guru dan siswa, tetapi berupa interaksi edukatif. Dalam hal ini bukan hanya penyampaian pesan berupa materi pelajaran, melainkan penanaman sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar.
Proses belajar mengajar memeiliki makna dan pengertian yang lebih luas daripada pengertian mengajar semata. Dalam proses belajar mengajar tersirat adanya suatu kesatuan kegiatan yang tak terpisahkan antara siswa yang belajar dan guru yang mengajar. Antara kedua kegiatan ini terjalin interaksi yang saling menunjang.
Oleh karena itu, proses belajar megajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Peristiwa belajar mengajar banyak berakar pada berbagai pandangan dan konsep. Oleh karena itu perwujudan proses belajar mengajar dapat terjadi dalam berbagai model. Bruce Joyce dan Marshal Weil mengemukakan 22 model mengajar yang di kelompokan ke dalam 4 ha, yaitu : Proses informasi, perkembangan pribadi, interaksi sosial dan modifikasi tingkah laku (Joyce & Weil, Models of Teaching, 1980).





B.            Faktor  Mempengaruhi Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar
Sanjaya (2012:21) menjelaskan  terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan dalam proses belajar mengajar diantaranya adalah faktor guru, faktor siswa, faktor sarana, alat dan media yang tersedia, serta faktor lingkungan. Sementara itu Mulyono (2012:138-143) menyebutkan terdapat tiga faktor utama dalam keragaman kecakapan dan kepribadian sehingga mempengaruhi proses belajar mengajar yaitu faktor Herediter (bawaan lahir), faktor Environment (lingkungan), dan fator Maturity (kematangan). Adapun penjelasan mengenali faktor pengaruh terhadap proses belajar mengajar secara rinci berdasarkan atas pandangan Sanjaya dan Mulyono, yaitu sebagai berikut :
1.             Faktor Guru
Guru adalah komponen yang berpengaruh dalam suatu proses belajar mengajar, karena bagai manapun pemanfaatan media dalam proses pembelajaran akan dipengaruhi oleh presepsi guru itu sendiri tentang hakikat pembelajaran (Sanjaya, 2012:21).
 Oleh sebab itu, guru yang mengaggap mengajar hanya sebatas menyampaikan materi pelajaran akan berbeda dengan guru yang menaggap mengajar adalah suatu proses pemberian bantuan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Suryosubroto (2009:2) menjelaskan bahwa  belajar mengajar merupakan inti dari kegiatan pendidikan di sekolah, agar tujuan pendidikan dan  pengajaran berjalan dengan benar maka perlu pengatministrasian kegiatan belajar mengajar oleh guru, sehingga guru mempunyai peran dan pengaruh dalam proses belajar mengajar.
Selain mempunyai peran dan pengaruh dalam proses belajar mengajar,  guru juga merupakan salah satu status sosial yang ada dalam masyarakat. Seperti yang dijelaskan oleh Sudarman (2013:7)  bahwa guru adalah bagian penting dalam struktur masyarakat, abik dalam lembaga pendidik, maasyarakat pada umumnya, maupun dalam struktur kenegaraan.
Sebagai suatu agen perubahan, guru berperan sebagai pendidik. Menurut Sudarman (2013:7) guru sebagai pendidik maksudnya  adalah posisi sosial guru benar-benar hanya berada dalam ruang ukuran 8x8 m, hanya di ruang kelas itulah guru berperan. Dalam ruang kelas guru memberikan petuah dan ajaranya mengenai berbagaai hal, beraitan dengan mata pelajaran yang di ampuhnya kepada peserta didik. Adapun tugas guru sebagai pendidik dalam proses belajar mengajar seperti yang dijelaskan juga oleh Suryosubroto (2009:3) dalam Rifai (1989:139) meliputi tugas Paedagogis dan tugas administrasi, yaitu :

Tugas paedagogis adalah tugas membantu, membimbing, dan memimpin, dalam situasi pengajaran, guru lah yang memimpin dan bertanggung jawab penuh atas kepemimpinan yang dilakukanya itu, ia tidak melakukan intruksi-intruksi dan tidak berdiri pada intruksi manusia lain kecuali dirinya sendiri, setelah masuk dalam kelas.

Jadi, setelah masuk dalam kelas tugas guru adalah sebagai pemimpn dan bukan semata-mata mengontrol atau mengkritik dan untuk dapat mampu melaksanakan tugasnya sebagai pengajar dengan baik, Suryosubroto (2009:3) menjelaskan bahwa guru harus memiliki kemampuan profesional yaitu memenuhi 10 kopetensi yang meliputi :
a)       Menguasai bahan, meliputi : menguasai bahan bidang studi dalam kurikulum sekolah, menguasai bahan pengayaan/penunjang bidang studi.
b)            Mengelola program belaajar mengajar, meliputi : merumuskan tujuan instruksional, mengenal dan dapat menggunakan prosedur intruksional yang tepat, mengenakan program belajar mengajar, mengenal kemampuan anak didik.
c)         Mengelola kelas, meliputi : mengatur tata ruang kelas untuk belajar, menciptakan iklim belajar yang serasi.
d)         Mengenakan media dan sumber, meliputi : membuat alat bantu belajar sederhana, menggunakan perpustakaan dalam proses belajar mengajar.
e)             Menguasai landasan-landasan pendidikan.
f)             Mengelola interaksi-interaksi belajar mengajar.
g)            Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pendidikan.
h)            Mengenal fungsi bimbingan dan penyuluhan di sekolah, meliputi : mengenal fungsi dan layanan program bimbingan dan penyuluhan, menyelenggarakan laayanan bimbingan dan penyuluhan.
i)              Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah.
j)       Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan untuk keperluan pengajaran.

Kopetensi profesional guru tersebut diatas merupakan profil kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru, kompetesi tersebut diats dikembangkan berdasarkan pada analisis tugas-tugas yang harus dilakukan oleh guru. Oleh karena itu, ke-sepuluh komponen tersebut secara operasional mencerminkan fungsi dan peran guru dalam membelajarkan anak didik yang mempengaruhi proses belajar megajar di sekolah.
2.             Faktor Siswa
Hamalik (2010:99) menjelaskan bahwa siswa adalah salah satu komponen dalam proses belajar mengajar, di samping faktor guru, tujuan, dan metode pengajaran. Sebagai salah satu komponen dalam belajar mengajar, maka siswa adalah komponen yag terpenting diantara kompnen lainya, karena siswa merupakan unsur penentu dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, tanpa adanya siswa sesungguhnya tidak akan terjadi proses belajar mengajar.
Siswa merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses belajar mengar di sekolah, oleh sebab itu seoranguru harus mampu memahami siswa yang memiliki kecakapan dan kepribadian yang berbeda dalam interaksi belajar mengajar dalam kelas, hal ini di pengaruhi oleh 3 faktor seperti yang dijelaskan oleh Mulyono (2012:138-143) yaitu :
a)       Herediter, yaiu pembawaan sejak lahir atau berdasarkan keturunan yang bersifat kodrati, seperti : struktur fisik, kecekapan potensial (bakat dan kecerdasan).
b)           Environment, yaitu penengaruh tempat tinggal individu itu berada dan berinteraksi, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-pisikologis, termasuk didalamnya adalah belajar.adapun pengaruh kingkungan memiliki peran penting bagi individu, sebagai berikut :
1).    Alat untuk kepentigan dan kelangsungan hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu.
2).         Tantangan bagi individu untuk dapat menundukanya.
3).          Sesuatu yang diikuti oleh individu menentukan watak dan karakternya.
4).         Objek penyesuaian diri bagi individu.
c)    Maturity, yaitu kematangan yang mengacu pada tahap-tahap atau fase-fase perkembangan yang dijalani oleh individu. Kematangan pada awalnya merupakan hasil dari adanya perubahan perubahan tertentu dan penyesuaiaan struktural pada diri individu, seperti halnya kematangan jaringan-jaringan tubuh, otak, otak, syaraf, dan kelenjar. Kematangan terjadi pula pada aspek-aspek psikis, seperti : kemampuan berfikir, emosi, sosial, moral, dan kepribadian, religius. Kematangan aspek pisikis ini dipengaruhi oleh adanya latihan dan belajar tertentu.

Seorang guru dituntut untuk mampu memahami perbedaan yang ada pada setiap individu, dengan memahami perbedaan-perbedaan yang ada pada setiap individu-individu tersebut, guru akan dapat memilih strategi dan metode pengajaran yang tepat dan teknik terbaik dalam melakukan kegiatan pembelajaran, sehingga proses belajar mengajar akan lancar terkendalai.


3.             Faktor Sarana dan Prasarana
Sanjaya (2012:22-23) Sarana dan Prasarana adalah sesuaru yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses belajar, misalnya : media pembelajaran, alat-alat pembelajaran, perlengkapan sekolah dan lainyasebagainya. Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak langsung dapat mendukung keberhasilan proses belajar mengajar.
Dengan demikian, kelengkapan sarana dan prasarana dalam sekolah akan membantu guru dan siswa dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar. Maka oleh sebab itu, sarana dan prasarana juga merupakan komponen penting yang dapat mempengaruhi keberlangsungan belajar mengajar.
Suryosubroto (2009:305) proses belajar mengajar di sekolah akan berjalan dengan lancar apabila ditunjang dengan sarana dan prasarana yang memadai, baik jumblah, kadaan, maupun kelangkapanya. Jumblah yang dimaksud adalah keberadaan banyak atau sedikitnya sarana yang dimiki. Sanjaya (2012:23) menjelaskan terdapat beberapa keuntungan dari sekolah yang memiliki kelengkapan sarana dan prasarana. Pertama, kelengkapan sarana dan prasarana dapat menumbuhkan gairah dan motivasi guru dalam mengajar. Mengajar dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu sebagai proses penyampiaan materi pelajaran dan sebagai proses pengaturan lingkungan yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Apabila belajar dipandang sebagai penyampaiaan materi, maka akan dibutuhkan sarana pembelajaran berupa alat dan bahan yang dapat menyalurkan pesan secara aktif dan efisien. Kedua, kelengkapan sarana dan prasarana dapat memberikan berbagai pilihan kepada siswa untuk belajar, karena setiap siswa pada dasarnya memiliki gaya beajar yang berbeda. Maka oleh sebab itu, sarana dan prasarana juga merupakan komponen penting yang dapat mempengaruhi proses belajar mengajar.



4.             Faktor Lingkungan
Sanjaya (2012:24) membedakan faktor lingkungan yang mempengaruhi proses pembelajaran dari sudut pandang dimensi ligkungan belajar, yaitu faktor organisasi kelas, dan faktor iklim sosio-pisikologi. Faktor organisasi kelas meliputi jumblah siswa dalam satu kelas merupakan aspek penting yang dapat mempengaruhi proses belajar mengajar. Menurut Sanjaya (2012:25) Organisasi kelas yang terlalu besar tidak akan efektif untuk mencapai tujuan belajar. Kelompok belajar yang terlalu besar dalam suatu kelas akan berkecendrungan :
a)          Sumber daya kelompok akan bertambah luas sesuai dengan jumblah siswa sehingga waktu yang tersedia akan semakin sempit.
b)       Kelompok belajar akan kurang mampu memanfaatkan dan menggunakan semua sumber daya yang ada, misalnya : jumblah siswa yang terlalu banyak akan memakan waktu yang terlalu banyak pula, sehingga sumbangan pemikiran akan sulit didapatkan dari siswa.
c)             Kepuasan belajar setiap siswa akan cendrung menurun, hal ini disebabkan karena kelompok belajar terlalu banyak sehingga mendapatkan pelayanan yang terbatas untuk setiap individu dari guru, dengan kata lain perhatian guru akan semakin pecah.
d)          Anggota kelompok yang terlalu baanyakakan cendrung semakin banyak siswa yang enggan berpartisifasi aktif dalam setiap kegiatan kelompok.

Meperhatikan beberapa kecendrungan tersebut diatas dilihat dari faktor organisasi kelas, maka jumblah anggota kelompok yaang besar kurang menguntungkan dalam proses belajar mengajar. Selanjutnya adalah Faktor iklim sosio-psikologis merupakan faktor hubungan keharmonisan atau tidak harmonis antar orang yang terlibat dalam proses pembelajaran. Iklim sosial ini dapat pula terjadi secara internal dan eksternal. Iklim sosial-psikologis secara intrnal adalah hubungan antar orang yang terlibat dalam lingkungan sekolah, misalnya iklim sosial antar siswa dengan siswa, antar siswa dengaan guru, antar guru dengan guru, bahkan antar guru dengan kepala sekolah. Iklim sosio-psikologis eksternal adalah keharmonisan hubungan antar pihak sekolahdengan dunia luar, misalnya hubungan sekolah dengan orang tua siswa, hubungan sekolah dengan lembahga-lembaga masyarakat dan yaang lainya.
Faktor lingkungan yang berpengaruh pada proses belajar mengajar siswa pada dasarnya dibagi menjadi :
a)        Lingkungan Keluarga, peran keluarga dalam pendidikan anak sangatlah penting, mengingat keluarga adalah tempat pendidikan yang pertama dalam membentuk individu sangat besar.
b)       Lingkungan Sekolah, Sekolah yang mempunyai gedung belajar yang memadai, cukup memiliki alat-alat perlengkapan belajar ditambah dengan kecakapan guru dalam menggunakan alat-alat tersebut akan mempermudah belajar siswa.
c)       Lingkungan Masyarakat, Norma-norma sosial budaya yang berpengaruh dalam masyarakat tersebut merupakan aturan yang ditularkan oleh generasi tua kepada generasi muda yang bisa disebut dengan proses pendidikan masyarakat, sehingga mempengaruhi sikap dan prilaku siswa dalam interaksinya dalam kelas.




BAB III
PENUTUP

A.           Kesimpulan
Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar.
Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan dalam proses belajar mengajar diantaranya, yaitu :
1.             faktor guru
2.             faktor siswa
3.             faktor sarana dan prasarana, dan
4.             faktor lingkungan.
Mulyono (2012:138-143) menyebutkan terdapat tiga faktor utama dalam keragaman kecakapan dan kepribadian sehingga mempengaruhi proses belajar mengajar, yaitu :
1.             faktor Herediter (bawaan lahir),
2.             faktor Environment (lingkungan), dan
3.             fator Maturity (kematangan).




DAFTAR PUSTAKA

Suryosubroto, B. 2009. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta
Sanjaya, wina. 2012. Media Komunnikasi Pembelajaran. Jakarta : Kencana Prenada media Group
Mulyono. 2012. Strategi Pembelajaran Menuju Efektivitas Pembelajaran di Abat Global. Malang : UIN-MALIKI PRESS
Hamalik,Oemar. 2010. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara
Sudarman, Momon. 2013. Profesi Guru, Dipuji, Dikritis, dan Dicaci. Jakarta : Raja Grafindo Persada
https://inspirasibelajar.wordpress.com/2011/03/19/pengertian-proses-belajar-mengajar/