MAKALAH
KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK
MENGEMBANGKAN KARAKTER SISWA DALAM AJARAN HINDU
(Presfektif Landasan
Pendidikan Agama Hindu)
Oleh :
R I W A N C A
16.11.002
SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU NEGERI TAMPUNG
PENYANG (STAHN-TP) PALANGKA RAYA PASCASARJANA
PRODI MEGISTER PENDIDIKAN AGAMA HINDU
TAHUN 2016
PENYANG (STAHN-TP) PALANGKA RAYA PASCASARJANA
PRODI MEGISTER PENDIDIKAN AGAMA HINDU
TAHUN 2016
KATA PENGANTAR
Om Swastyastu..
Tabe Salamat Lingu Nalatai Salam
Sujud Karendem Malempang.
Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Ranying
Hatalla/Sang Hyang Widhi Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat Asung Krtha Waranugraha-Nya
lah sehingga dapat terselesainya pembuatan Tugas Makalah yang berjudul “Faktor
yang Mempengaruhi Terhadap Berlangsungnya Proses Belajar Mengajar dalam Kelas” tepat
pada waktunya.
Penulis menyadari
bahwa dalam penulisan Proposal Skripsi ini tentu masih banyak kekurangan,
sehingga masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya saran serta kritik yang dapat membangun
kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan
makalah selanjutnya.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kaksih kepada semua
pihak yang telah membantu dalam penulisan Proposal Skripsi ini dan mohon maaf
atassegala kesalahan serta kekurangannya. Semoga ilmu pengatahuan yang baik
datang dari segala penjuru arah.
Om Santy Santy Santy Om
Sahey ...
Palangkaraya, 2016
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pembangunan
pendidikan yang sudah dilaksanakan sejak Indonesia merdeka telah memberikan
hasil yang cukup mengagumkan sehingga secara umum kualitas sumberdaya manusia
Indonesia jauh lebih baik. Namun dibandingkan dengan negara-negara ASEAN,
indonesia masih ketinggallan jauh, oleh karena itu, upaya untuk membangun
sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi, berwawasan iptek, serta bermoral
dan berbudaya bukanlah suatu pekerjaan yang relatif ringan. Hal ini di sebabkan
dunia pendidikan kita masih menghadapi berbagai masalah internal yang cukup
mendasar dan bersifat kompleks. Kita masih menghadapi sejumlah masalah
yang sifatnya berantai sejak jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi.
Rendahnya kualitas pada jenjang sekolah dasar sangat penting untuk segera
diatasi karena sangat berpengaruh terhadap pendidikan selanjutnya, ada beberapa
masalah internal pendidikan yang dihadapi, antara lain sebagai berikut.
Terjadi
kecenderungan menurunnya akhlak dan moral yang menyebabkan lunturnya tanggung
jawab dan kesetiakawanan sosial, seperti terjadinya tawuran pelajar dan
kenakalan remaja. Dalam hal ini pendidikan agama menjadi sangat penting menjadi
landasan akhlak dan moral serta budi pekerti yang luhur perlu diberikan kepada
peserta didik sejak dini. Dengan demikian, hal itu akan menjadi landasan yang
kuat bagi kekokohan moral dan etika setelah terjun ke masyarakat.
Masalah-masalah diatas erat kaitanya dengan kendala seperti keadaan geografis,
demografis, serta sosio-ekonomi besarnya jumlah penduduk yang tersebar
diseluruh wilayah geografis Indinesia cukup luas. Kemiskinan juga merupakan
salah satu kendala yang memiliki hubungan erat dengan masalah pendidikan.
Rendahnya mutu kinerja sistem pendidikan tidak hanya disebabkan oleh adanya
kelemahan menejemen pendidikan tingkat mikro lembaga pendidikan, tetapi karena
juga menejemen pendidikan pada tingkat makro seperti rendahnya efisiensi dan
efektivitas pengolahan sistem pendidikan. Sistem dan dan tata kehidupan
masyarakat tidak kondusif yang turut menentukan rendahnya mutu sistem
pendidikan disekolah yang ada gilirannya menyebabkan rendahnya mutu peserta
didik dan lulusannya. Kebijaksanaan dan progran yang ditujukan untuk mengatasi
berbagai permasalahan di atas, harus di rumuskan secara spesifik karena
fenomena dan penyebab timbulnya masalah juga berbeda-beda di seluruh wilayah
Indonesia.
Oleh sebab itu, Mengingat pentingnya pendidikan
sebagai usaha sadar dalam upaya menanamkan nilai-nilai manusia yang berbudi luhur seperti yang telah
diuraikan di atas
yang tercantum dalam Undang-undang Dasar Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
Tentang Sistem Pendidikan Nasional, maka peneliti mengangkat judul tentang “Konsep
Pelajaran Pendidikan Karakter untuk Mengembangkan Karakter Siswa sesuai Ajaran
Hindu (Presfektif Kebijakan Pendidikan Agama Hindu).”
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang masalah yang telah
diuraikan, maka rumusan masalah sebagai berikut :
1.
Apa
yang dimaksud dengan Pendidikan dan Karakter?
2.
Apa
yang dimaksud dengan Pendidikan Karakter?
3. Bagaimanakah
Konsep Pendidikan Krakter dalam ajaran Agma Hindu?
C.
Tujuan Dan Manfata Penulisan
1.
Tujuan
Penulisan
2.
Manfaat
Penelitian
Secara teoritis penelitian ini
mempunyai manfaat memberikan informasi mengenai pengertian Pendidikan secara
Umum, pengertian Karakter dan bermanfaat
unutk memberikan inforasi mengenai pengertian Pendidikan Karakter. Secara Praktis penulisan ini mempunyai manfaat yaitu dapat digunakan untuk
mengetahui konsep Pendidikan Karakter dalam ajaran agama Hindu.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pendidikan dan Karakter
1.
Pengertian
Pendidikan
Istilah Pendidikan menurut
Tatang (2012:17) berdasarkan hasil kesimpulanya dari pendapat para ahli dalam
bidang pendidikan, bahawa pendidikan dapat dipahami dari makna teoritis dan
makna praktis, yaitu sebagai berikut :
a) Pendidikan
berarti mengajarkan segala hal yang bermanfaat bagi segala kehidupan manusia,
baik terhadap segala aktivitas jasmani, pikiran maupun terhadap ketajaman dan
kelembutan hati nurani.
b) Pendidikan
dapat berbasis pada kebudayaan masyarakat, nilai-nilai agama serta visi dan
misi lembaga pendidikan.
c) Pendidikan
dapat berjalan secara formal maupun informal.
Pengertian pendidikan sebagai landasan untuk mengajarkan hal
yang bermanfaat bagi kehidupan sebagai Humanisasi, yaitu untuk memanusiakan
manusia juga sesuai dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
Tentang Sistem Pendidikan Nasional baik dari makna teoritis maupun praktis.
Dalam Undang-undang dinyatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.” Pendidikan
sebagai usaha sadar yang ditujukan kepada peserta didik agar menjadi manusia yang kepribadian kuat dan utuh serta bermoral tinggi.
Faturrahman (2012:18) peran pendidikan dalam berbagai
lingkungan kehidupan yaitu terkait dengan lingkungan keluarga (informal), lingkungan sekolah (formal) dan lingkungan msayarakat (nonformal).
Pendidikan di lingkungan keluarga (informal) merupakan pelatakan dasar pertama dlam proses pendidikan
dimana dilatih berbagai kebiasaaan positif tentang hal-hal yang berhubungan
dengan kecekatan, kesopanan dan moralitas. Dalam lingkungan keluarga juga
ditanamkan keyakinan dan hal-hal yang bersifat religius. Hal ini dilakukan pada
masa anak-anak sebelum berkembang rasio mendominasi prilakunya, kebaisaan yang
baik dan positif serta keyakinan penting untuk ditanamam. Pendidikan di
lingkungan sekolah (formal) merupakan
pendidikan diamana peserta didik dibimbing untuk mendapatkan bekal pengetahuan
(kognitif) keterampilan (afektif) dan sikaf (fisikomotor).
Falsafah pendidikan Ki Hajar Dewantara “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Karso, tutwuri Handayani” membutukan
keteladanan seluruh kompnen pendidikan terutama guru. Sebagai guru adalah ikon
unutk bisa digugu dan ditiru (dituruti kata-katanya dan dijadikan teladan
prilakunya) oleh karena itu keteladanan seorang guru merupakan suatu keharusan.
Sehingga tujuan pendidikan nsional dapat berkembangnya potensi peserta didik
agar menjadi manusiaa yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.
Pengertian
Karakter
Menurut Kamus Umum Bahasa
Indonesia, istilah “karakter” berarti
mengacu pada tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, ahlak atau budi pekerti yang
membedakan seseorang dengan yang lain. Suptomo (2011:17) menjelaskan bahwa
berdasarkan estimologi kata “karakter” berasal dari bahasa Latin “kharakter”, “kharassaein” dan “kharax”
yang berarti “membuat tajam” atau “membuat dalam”.
Menurut Saptomo (2011:18) istilah
“karakter” lazim dipahami dalam dua
kubu pengertian, yaitu :
Pertama, karakter bersifat Deterministik artinya karakter dipahami
sebagai sesuaatu yang bersifat roahaniah pada diri kita yang sudah teranugrahi
atau dari asalnya (Given). Dengan
demikian, ia merupakan kodisi yang kita terima begitu saja, tak bisa kita ubah.
Ia merupakan tabiat seseorang yang bersifat tetap yang menjadi tanda khusus
yang membeda orang yang satu dengan yang lainya. Kedua, bersifat Non-determistik
atau dinamis artinya karaker dipahami sebagai tingkatan kekuatan atau
ketangguhaan seseorang dalam upaya mengatasi kondisi rohaninya yang sudah Given. Ia merupakan proses yang sudah
dikehendaki oleh seseorang (Willed) untuk
menyempurnakan kemaausiaanya.
Berdasarkan pengertian tersebut diatas menagenai penertian “Karakter” baik dari pengertian Deterministik maupunn Non-deterministik akan memberikan pemahaman
yang utuh mengenai pengertian dari “Karakter”.
Gunawan (2014:19-22) terdapat beberapa
faktor yang mempengaruhi pembentukan karakter, ahlak, moral, budi pekerti dan
etika masnusia yang dapat digolongkan menajdi dua bagaian besar, yaitu faktor
intern dan faktor ekstern.
a)
Faktor
Intern
Terdapat banyak hal yang mempengaruhi faktor intern,
daitaranya adalah sebagai berikut :
1).
Insting atau Naluri, Setiap perbuatan
manusia lahir dari suatu kehendak yang digerakan oleh Naluri (Insting). Naluri merupakan tabiat yang
dibawa sejak lahir yang merupakan suatu pembawaan yang asli.
2).
Adat
atau Kebiasaan merupakan salah satu faktor dalam tigkah laku manusia adalah
kebiasaan, karena sikap dan prilaku yang menjadi ahlak (karakter) sagat erat
sekali dengan kebiasaan. Faktor kebaiasaan ini memegang peranan yang sangat
penting dalam membentuk dan membina karakter.
3). Kehendak
atau Kemauan ialah kemauan untuk melangsungkan segala ide dan segala ayang
dimaksud, walaupun disertai berbagai rintangan-rintangan tersebut. Salah satu
kekuatan yang berlindung dibalik tingakah laku adalah kehendak atau kemaauan
keras yang mendorong seseorang bertindak sehingga membentuk prilaku, dari
prilaku inilah tercermin karakter.
4). Keturunan,
merupakan faktor yang dapat mempengaruhi perbuatan manusia dalam keehidupan
sehari-hari.
b)
Faktor
Ekstern
Selain faktor Intern
(bersifat dari dalam) yang dapat mempengaruhi karakter, ahlak, moral, budi
pekerti dan etika manusia, juga terdapat faktor dari Ekstern (bersifat dari luar) diantaranya dalah sebagai berikut :
1). Pendidikan,
gunawan (2014:21) dalam Tafsir (2004) menyatakan bawa pendidikan merupakan
usaha meningkatkan diri dalam berbagai aspek. Pendidikan mempunyai pengaruh
yang besar dalam pembentukan karakter, ahlak dan etika seseorang sehingga baik
buruknya ahlak seseorang sangat tergantung pada pendidikan. Pendidikan iktut
memar=tangkan kepribadian manusia sehingga tingkah-lakunnya sesuaai dengan
pendidikaan yang telah diterima oleh seseorang baik formal, informal maupun
nonformal.
2). Lingkungan,
merupakan suatu yang melingkupi suatu tubuh yang hidup, seperti
tumbuh-tumbuhan, keadaan tanah, udara,dan pergaulan manusia hidup selalu berhubungan
dengan manusia lainya atau dalam bergaul dan dalam pergaulan itu saling
mempengaruhi pikiran, sifat dan tingkah laku. Adapun lingkungan dibagi ke dalam
dua bagian, yaitu :lingkungan yang bersifat kebendaan dan lingkungan pergaulan
secara langsung dapat membentuk karakter pada seseorang.
B.
Pendidikan Karakter
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang sistem Pendidikan
Nasional pada pasal 3, yang menyebutkan bahwa : “Pendidikan nasionala berfungasi
mengembangkan kemampuan dan membentuk Karakter
serta peradaban bangsa yang bermartabat dan mencerdaskan kehidupan bangsa...”
dalam undang undang tersebut secara jelas menyebutkan “Karakter” terkait dengan fungsi dari pendidikan nasional
walaupun tidak jelas mendefinisikan karakter yang dimaksud, sehingga
menimbulkan berbagai pengertian mengenai karakter menurut para ahli.
Saptono (2011:23) menjelaskan bahwa pendidikan karakter
adalah upaya yang dilakukan dengaan sengaja untuk mengembangkan karakter yang
baik (Good Character) berdasarkan
kebijakan-kebiajakan inti (Core Virtules)
yang secara objektiv baik bagi individu maupaun masyarkat. Kebiajakan-kebijakan
inti di sinimerujuk pada dua kebiajakan fundamental
dan sepuluh kebiajakan esensial.
Saptono juga menjelaskan terdapat dua
kebijakan fundamental yang dibutuhkan
untuk membentuk karakter yang baik, yaitu : rasa hormat (Respect) dan tanggung jawab (Responsibility),
kedua kebijakan itu merupakan nilai moral fundamental yang harus diajarakan
dalam pendidikaan karakter. Rasa hormat berarti mengungkapkan pengharagaan
terhadap seseorang atau sesuaatu. Hal itu terwujud dalam tiga bentuk, yaitu
rasa hormat terhadap : diri sendiri, orang lain dan segala bentuk kehidupan.
Kebiajakan esensial dibutuhkan utnnuk
membentuk karakter yang baik, yaitu meliputi sepuluh kebijakan, yaitu :
kebijaksanaan (Wisdom), keadilan (Justice), ketabahan (Fortitude), pengembangan diri (Self-Control), kasih (Love), sikap positif (Positive
Attitude), kerja keras (Hard Work),
intergritas (Intergrity), penuh
syukur (Gratitude), dan kerendahan
hati (Humility).
Zubaedi (2011:17) meyatakan bahwa pendidikan karakter harus
dipahami sebagai upaya menanamakan kecerdasan dalam pemikiran, penghayatan
dalambentuk sikap dan pengalaman dalam bentuk prilaku yang sesuaai dengan
nilai-nilai luhur yang menjadi jati dirinya, diwujudkan dengan iteraksi dengan
Tuhanya, diri sendiri, antar sesama dan lingkunganya. Nilai-nilai luhur
tersebut antara lain : kejujuran, kemandirian, sopan santun, kemuliaan sosial,
kecerdasan berfikir, termasuk
kepenasaran akan intelektual, dan berfikir logis. Oleh sebab itu, penanaman pendidikan karakter tidak bisa hanya sekedar mentransfer
ilmu pengatahuan atau melatih suatu keterampilan tertentu.
Pendidikan
agama Hindu juga sebagai sub dari pendidikan agama. Menurut Swami Sathya
Narayana (dalam Titib, 2003: 7) pendidikan agama Hindu adalah pembentukan
karakter manusia (character building),
Oleh karena itu, pendidikan agama Hindu pada hakikatnya merupakan suatu upaya
untuk membina pertumbuhan jiwa manusia dengan menanamkan ajaran-ajaran agama
Hindu menjadi keyakinan serta sebagai landasan segenap kegiatan umat dalam
semua perikehidupannya serta membentuk manusia yang memiliki śraddhādan bhakti kepada Ida Sang Hyang
Widhi Wasa, sehingga memiliki karakter yang humanis dan religius.
C.
Pendidikan Karakter dalam Ajaran
Agama Hindu
Pandangan
bahwa agama adalah alat untuk mencapai kemuliaan manusia, dan menjadikan
manusia bersifat dewata atau menjadi manusia dewasa sudah sangat tegas dalam
Hindu. Dalam pelaksanaan keagamaan, tidak bisa terlepas dari Tri Kerangka Dasar
Agama Hindu meliputi (1) Tattva (Filsafat),
Suśīla (Etika), dan Ācāra Agama(Upācāra dan Upakara) (Titib, 2007: 25 dalam Sura 2006: 1).
Apabila
dipahami, dihayati dan dilaksanakan akan menjadikan umat Hindu memiliki
kepribadian yang baik dan mulia. Hal ini berarti bahwa agama Hindu tidak saja
mendidik secara fisik, visual semata, namun secara seimbang melalui jasmani dan
rohani. Secara sekala dan niskala untuk memperoleh keseimbangan.
Sehingga manusia Hindu memeiliki kepribadian yang mulia, atau mampu berkarakter
dewa. Konsep penting lainnya yang perlu ditekankan dalam pendidikan agama Hindu
yang menjadi salah satu penekanan dalam ajaran Suśīla adalah Tri Kaya
Parisudha, yaitu :
1. Manacika (berpikir yang baik dan suci),
2. Wacika (berbicara yang benar), dan
3. Kayika (berlaksana yang baik dan
jujur).
Lebih
lanjut dalam agama Hindu juga telah banyak diuraikan bagaimana membentuk
pribadi yang berkarakter yang bisa diacu oleh guru pendidikan agama Hindu,
sebagaimana diuraikan oleh Soebadrdjo (1992: 75) yang disebut Catur Vidya meliputi: (1) Anwisaki, memiliki wawasan dan kadar
keimanan yang kualitatif; (2) Wedatrayi,
menghayati dan mengamalakan nilai-nilai religius Hindu secara utuh dan segar;
(3) Vartha, senantiasa mengembangkan
diri dengan melalui peningkatan budaya kerja. Berkarya penuh kreatif dan
inovatif; (4) Dandha, berpartisipasi
secara aktif demi terciptanya stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.
Hidup
sebagai manusia pada hakekatnya sangat utama, dalam kitab Sārasamuccaya, sloka 4 dijelaskan “Apan iking dadi wwang, uttama juga ya, nimittaning mangkana, wênang ya
tumulung awaknya sangkeng sengsara, makasādhanang śubhakarma, hinganing
kottamaning dadi wwang ika”
yang artinya sesungguhnya menjelma sebagai manusia ini adalah suatu hal
yang utama, karena hanya manusialah yang dapat menolong dirinya sendiri dari
kesengsaraan, yaitu dengan jalan berbuat baik. Itulah keuntungan menjelma
menjadi manusia (Sudharta, 2009: 5).
Agama
adalah inner power atau tenaga dalam
bagi pemeluknya dalam menghadapi berbagai tantangan hidup (Agastia, 2006: 7).
Agama dengan jelas telah memberikan hakikat hidup bagi manusia, yang
sesungguhnya merupakan persoalan paling mendasar bagi manusia. Hakikat tujuan
hidup dalam agama Hindu diformulasikan dengan kalimat Mokṣartham jagathitaya ca iti dharma. Tujuan hidup adalah untuk
mencapai jagathita dan mokṣa. Hal ini kemudian lebih dijabarkan
ke dalam apa yang disebut sebagai Catur
Purusa Artha: dharma, artha, kāma,
dan mokṣa. Tujuan hidup ini kemudian
menjiwai tatanan sosial yang disebut catur
āśrama(brahmacari, gṛhastha, vānaprasthadan
saṅnyāsa) dan catur varṇa(brāhmaṇa, kṣatriya,
vaisya dan sudra).
Dengan
demikian agama Hindu dengan jelas dan tegas telah menetapkan hakekat tujuan
hidup serta jalan atau cara mencapainya, termasuk tatanan masyarakat sebagai
sarana untuk mencapainya demi mewujudkan manusia yang berkarakter dewa, baik
dan mulia. Maka agama Hindu tidak saja dapat memberi wawasan dan visi yang
jelas bagi umat dalam menghadapi kehidupan, tetapi juga akan membangun
integritas diri bagi pemeluknya. Dengan
kata lain pendidikan agama Hindu memiliki manfaat baik
dalam
upaya
menciptakan
individu ber-Karakter
sehingga terciptalah
generasi
muda yang ber-Karakter dan berkualitas tinggi
untuk membangun bangsa yang
beradab.
Jadi,
revitalisasi pendidikan agama Hindu di sekolah harus dimulai dari penyediaan
guru agama Hindu yang kompeten, yaitu yang memiliki empat kompetensi pokok
seperti di atas. Untuk keberhasilan pembelajaran pendidikan agama Hindu, guru
agama Hindu juga harus menguasai metodologi pembelajaran yang baik dan
komprehensif didukung oleh sarana dan prasarana pembelajaran yang memadai.
Keberhasilan program pembelajaran di sekolah, terutama membangun karakter
peserta didik, harus ditanggung bersama oleh semua warga sekolah mulai dari
pimpinan sekolah, para guru, para karyawan, serta keterlibatan peserta didik
secara aktif. Di samping itu, sekolah harus juga melibatkan orang tua peserta
didik dan seluruh masyarakat di sekitar sekolah agar ikut serta mendukung
keberhasilan sekolah dalam membangun karakter peserta didiknya.
BAB
IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
(1) Pendidikan berarti mengajarkan
segala hal yang bermanfaat bagi segala kehidupan manusia, baik terhadap segala
aktivitas jasmani, pikiran maupun terhadap ketajaman dan kelembutan hati
nurani. (2) Pendidikan dapat berbasis
pada kebudayaan masyarakat, nilai-nilai agama serta visi dan misi lembaga
pendidikan. (3)Pendidikan dapat
berjalan secara formal maupun informal. istilah “karakter” berarti mengacu pada tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan,
ahlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Pendidikan
karakter adalah upaya yang dilakukan dengaan sengaja untuk mengembangkan
karakter yang baik (Good Character)
berdasarkan kebijakan-kebiajakan inti (Core
Virtules) yang secara objektiv baik bagi individu maupaun masyarkat. Kebiajakan-kebijakan
inti di sinimerujuk pada dua kebiajakan fundamental
dan sepuluh kebiajakan esensial.
Pendidikan agama Hindu memiliki peranan yang sangat
penting dalam membentuk karakter manusia. Dalam pelaksanaan keagamaan,
tidak bisa terlepas dari Tri Kerangka Dasar Agama Hindu, yaitu tattva, suśīla, dan ācāra,apabila
dipahami, dihayati dan dilaksanakan akan menjadikan umat Hindu memiliki
kepribadian yang baik dan mulia. Selain itu, banyak ajaran dari agama Hindu yang dapat
membentuk karakter manusia diantarnya Tri Kaya Parisudha, Catur Marga,
Catur Vidya, dan Catur Āśrama.
DAFTAR PUSTAKA
S, Tatang. 2012. Ilmu Pendidikan. Bandung : Pustaka Setia
Ebook : Sistem Pendidikan Nasional. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
20 Tahun 2003 Tentang
Faturrahman, dkk. 2012. Pengantar Pendidikan. Jakarta : Prestasi
Pustakaraya
Poerwadarmita, W.J.S. 2007. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta :
Balai Pustaka
Saptomo. 2011. Dimensi-dimensi Pendidikan Karakter, Wawasan,
Satrategi, dan Langkah Praktis. Jakarta : Erlanngga
Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter, konsepsi dan
Aplikasi dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta : Kecana Prenada Media Group
Muslich, Mansnur. 2014. Pendidikan Karakter, Menjawab Tantangan
Krisis Multidimensional. Jakarta : Bumi Aksara
Titib, I Made. 2003. Menumbuhkembangkan
Pendidikan Budhi Pekerti Pada Anak dalam Perspektif Agama Hindu. Jakarta:
Ganeca Exact.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar