Sabtu, 03 Desember 2016

LANDASAN PENDIDIKAN HINDU




MAKALAH

KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK
MENGEMBANGKAN KARAKTER SISWA DALAM AJARAN HINDU
(Presfektif Landasan Pendidikan Agama Hindu)






 

Oleh :
R I W A N C A
16.11.002 







SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU NEGERI TAMPUNG
PENYANG (STAHN-TP) PALANGKA RAYA  PASCASARJANA
PRODI MEGISTER PENDIDIKAN AGAMA HINDU 
TAHUN 2016






KATA PENGANTAR



Om Swastyastu..
Tabe Salamat Lingu Nalatai Salam Sujud Karendem Malempang.
Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Ranying Hatalla/Sang Hyang Widhi Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat Asung Krtha Waranugraha-Nya lah sehingga dapat terselesainya pembuatan Tugas Makalah yang berjudul “Faktor yang Mempengaruhi Terhadap Berlangsungnya Proses Belajar Mengajar dalam Kelas” tepat pada waktunya.
 Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Proposal Skripsi ini tentu masih banyak kekurangan, sehingga masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan  adanya saran serta kritik yang dapat membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kaksih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan Proposal Skripsi ini dan mohon maaf atassegala kesalahan serta kekurangannya. Semoga ilmu pengatahuan yang baik datang dari segala penjuru arah.
Om Santy Santy Santy Om
Sahey ... 

Palangkaraya,   2016
Penulis
















BAB I 
PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang
Pembangunan pendidikan yang sudah dilaksanakan sejak Indonesia merdeka telah memberikan hasil yang cukup mengagumkan sehingga secara umum kualitas sumberdaya manusia Indonesia jauh lebih baik. Namun dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, indonesia masih ketinggallan jauh, oleh karena itu, upaya untuk membangun sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi, berwawasan iptek, serta bermoral dan berbudaya bukanlah suatu pekerjaan yang relatif ringan. Hal ini di sebabkan dunia pendidikan kita masih menghadapi berbagai masalah internal yang cukup mendasar dan bersifat kompleks. Kita masih menghadapi sejumlah  masalah yang sifatnya berantai sejak jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Rendahnya kualitas pada jenjang sekolah dasar sangat penting untuk segera diatasi karena sangat berpengaruh terhadap pendidikan selanjutnya, ada beberapa masalah internal pendidikan yang dihadapi, antara lain sebagai berikut.
      Terjadi kecenderungan menurunnya akhlak dan moral yang menyebabkan lunturnya tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial, seperti terjadinya tawuran pelajar dan kenakalan remaja. Dalam hal ini pendidikan agama menjadi sangat penting menjadi landasan akhlak dan moral serta budi pekerti yang luhur perlu diberikan kepada peserta didik sejak dini. Dengan demikian, hal itu akan menjadi landasan yang kuat bagi kekokohan moral dan etika setelah terjun ke masyarakat. Masalah-masalah diatas erat kaitanya dengan kendala seperti keadaan geografis, demografis, serta sosio-ekonomi besarnya jumlah penduduk yang tersebar diseluruh wilayah geografis Indinesia cukup luas. Kemiskinan juga merupakan salah satu kendala yang memiliki hubungan erat dengan masalah pendidikan. Rendahnya mutu kinerja sistem pendidikan tidak hanya disebabkan oleh adanya kelemahan menejemen pendidikan tingkat mikro lembaga pendidikan, tetapi karena juga menejemen pendidikan pada tingkat makro seperti rendahnya efisiensi dan efektivitas pengolahan sistem pendidikan. Sistem dan dan tata kehidupan masyarakat tidak kondusif yang turut menentukan rendahnya mutu sistem pendidikan disekolah yang ada gilirannya menyebabkan rendahnya mutu peserta didik dan lulusannya. Kebijaksanaan dan progran yang ditujukan untuk mengatasi berbagai permasalahan di atas, harus di rumuskan secara spesifik karena fenomena dan penyebab timbulnya masalah juga berbeda-beda di seluruh wilayah Indonesia.
Oleh sebab itu, Mengingat  pentingnya pendidikan sebagai usaha sadar dalam upaya menanamkan nilai-nilai  manusia yang berbudi luhur seperti yang telah diuraikan di atas yang tercantum dalam Undang-undang Dasar Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, maka peneliti mengangkat judul tentang “Konsep Pelajaran Pendidikan Karakter untuk Mengembangkan Karakter Siswa sesuai Ajaran Hindu (Presfektif Kebijakan Pendidikan Agama Hindu).”



B.            Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka rumusan masalah sebagai berikut :
1.             Apa yang dimaksud dengan Pendidikan dan Karakter?
2.             Apa yang dimaksud dengan Pendidikan Karakter?
3.        Bagaimanakah Konsep Pendidikan Krakter dalam ajaran Agma Hindu?


C.           Tujuan Dan Manfata Penulisan
1.             Tujuan Penulisan
Penulisan ini bertujuan untuk  untuk memperoleh pengetahuan mengenai pengertian dari Pendidikan dan Karakter, penegerian Pendidikan Karakter dan bertujuan  untuk memperoleh pengetahuan  mengenai konsep Pendidikan Karakter dalam ajaran agama Hindu.
2.         Manfaat Penelitian
Secara teoritis penelitian ini mempunyai manfaat memberikan informasi mengenai pengertian Pendidikan secara Umum, pengertian Karakter dan  bermanfaat unutk memberikan inforasi mengenai pengertian Pendidikan Karakter. Secara  Praktis penulisan ini mempunyai manfaat yaitu dapat digunakan untuk mengetahui konsep Pendidikan Karakter dalam ajaran agama Hindu.






BAB II
PEMBAHASAN

A.           Pengertian Pendidikan dan  Karakter
1.             Pengertian Pendidikan
Istilah Pendidikan menurut Tatang (2012:17) berdasarkan hasil kesimpulanya dari pendapat para ahli dalam bidang pendidikan, bahawa pendidikan dapat dipahami dari makna teoritis dan makna praktis, yaitu sebagai berikut :
a)         Pendidikan berarti mengajarkan segala hal yang bermanfaat bagi segala kehidupan manusia, baik terhadap segala aktivitas jasmani, pikiran maupun terhadap ketajaman dan kelembutan hati nurani.
b)    Pendidikan dapat berbasis pada kebudayaan masyarakat, nilai-nilai agama serta visi dan misi lembaga pendidikan.
c)           Pendidikan dapat berjalan secara formal maupun informal.

Pengertian pendidikan sebagai landasan untuk mengajarkan hal yang bermanfaat bagi kehidupan sebagai Humanisasi, yaitu untuk memanusiakan manusia juga sesuai dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional baik dari makna teoritis maupun praktis. Dalam Undang-undang dinyatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.” Pendidikan sebagai usaha sadar yang ditujukan kepada peserta didik agar  menjadi manusia yang kepribadian kuat  dan utuh serta bermoral tinggi.
Faturrahman (2012:18) peran pendidikan dalam berbagai lingkungan kehidupan yaitu terkait dengan lingkungan keluarga (informal), lingkungan sekolah (formal) dan lingkungan msayarakat (nonformal).
Pendidikan di lingkungan keluarga (informal) merupakan pelatakan dasar pertama dlam proses pendidikan dimana dilatih berbagai kebiasaaan positif tentang hal-hal yang berhubungan dengan kecekatan, kesopanan dan moralitas. Dalam lingkungan keluarga juga ditanamkan keyakinan dan hal-hal yang bersifat religius. Hal ini dilakukan pada masa anak-anak sebelum berkembang rasio mendominasi prilakunya, kebaisaan yang baik dan positif serta keyakinan penting untuk ditanamam. Pendidikan di lingkungan sekolah (formal) merupakan pendidikan diamana peserta didik dibimbing untuk mendapatkan bekal pengetahuan (kognitif) keterampilan (afektif)  dan sikaf (fisikomotor).
Falsafah pendidikan Ki Hajar Dewantara “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Karso, tutwuri Handayani” membutukan keteladanan seluruh kompnen pendidikan terutama guru. Sebagai guru adalah ikon unutk bisa digugu dan ditiru (dituruti kata-katanya dan dijadikan teladan prilakunya) oleh karena itu keteladanan seorang guru merupakan suatu keharusan. Sehingga tujuan pendidikan nsional dapat berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusiaa yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.             Pengertian Karakter
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, istilah “karakter” berarti mengacu pada tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, ahlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Suptomo (2011:17) menjelaskan bahwa berdasarkan estimologi kata “karakter” berasal dari bahasa Latin “kharakter”, “kharassaein” dan “kharax” yang berarti “membuat tajam atau “membuat dalam”.
Menurut Saptomo (2011:18) istilah “karakter” lazim dipahami dalam dua kubu pengertian, yaitu :
Pertama, karakter bersifat Deterministik artinya karakter dipahami sebagai sesuaatu yang bersifat roahaniah pada diri kita yang sudah teranugrahi atau dari asalnya (Given). Dengan demikian, ia merupakan kodisi yang kita terima begitu saja, tak bisa kita ubah. Ia merupakan tabiat seseorang yang bersifat tetap yang menjadi tanda khusus yang membeda orang yang satu dengan yang lainya. Kedua, bersifat Non-determistik atau dinamis artinya karaker dipahami sebagai tingkatan kekuatan atau ketangguhaan seseorang dalam upaya mengatasi kondisi rohaninya yang sudah Given. Ia merupakan proses yang sudah dikehendaki oleh seseorang (Willed) untuk menyempurnakan kemaausiaanya.

Berdasarkan pengertian tersebut diatas menagenai penertian “Karakter” baik dari pengertian Deterministik maupunn Non-deterministik akan memberikan pemahaman yang utuh mengenai pengertian dari “Karakter”. Gunawan  (2014:19-22) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan karakter, ahlak, moral, budi pekerti dan etika masnusia yang dapat digolongkan menajdi dua bagaian besar, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.
a)             Faktor Intern
Terdapat banyak hal yang mempengaruhi faktor intern, daitaranya adalah sebagai berikut :
1).      Insting atau Naluri, Setiap perbuatan manusia lahir dari suatu kehendak yang digerakan oleh Naluri (Insting). Naluri merupakan tabiat yang dibawa sejak lahir yang merupakan suatu pembawaan yang asli.
2).      Adat atau Kebiasaan merupakan salah satu faktor dalam tigkah laku manusia adalah kebiasaan, karena sikap dan prilaku yang menjadi ahlak (karakter) sagat erat sekali dengan kebiasaan. Faktor kebaiasaan ini memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk dan membina karakter.
3). Kehendak atau Kemauan ialah kemauan untuk melangsungkan segala ide dan segala ayang dimaksud, walaupun disertai berbagai rintangan-rintangan tersebut. Salah satu kekuatan yang berlindung dibalik tingakah laku adalah kehendak atau kemaauan keras yang mendorong seseorang bertindak sehingga membentuk prilaku, dari prilaku inilah tercermin karakter.
4).    Keturunan, merupakan faktor yang dapat mempengaruhi perbuatan manusia dalam keehidupan sehari-hari.
b)            Faktor Ekstern
Selain faktor Intern (bersifat dari dalam) yang dapat mempengaruhi karakter, ahlak, moral, budi pekerti dan etika manusia, juga terdapat faktor dari Ekstern (bersifat dari luar) diantaranya dalah sebagai berikut :
1).    Pendidikan, gunawan (2014:21) dalam Tafsir (2004) menyatakan bawa pendidikan merupakan usaha meningkatkan diri dalam berbagai aspek. Pendidikan mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan karakter, ahlak dan etika seseorang sehingga baik buruknya ahlak seseorang sangat tergantung pada pendidikan. Pendidikan iktut memar=tangkan kepribadian manusia sehingga tingkah-lakunnya sesuaai dengan pendidikaan yang telah diterima oleh seseorang baik formal, informal maupun nonformal.
2).      Lingkungan, merupakan suatu yang melingkupi suatu tubuh yang hidup, seperti tumbuh-tumbuhan, keadaan tanah, udara,dan pergaulan manusia hidup selalu berhubungan dengan manusia lainya atau dalam bergaul dan dalam pergaulan itu saling mempengaruhi pikiran, sifat dan tingkah laku. Adapun lingkungan dibagi ke dalam dua bagian, yaitu :lingkungan yang bersifat kebendaan dan lingkungan pergaulan secara langsung dapat membentuk karakter pada seseorang.

B.            Pendidikan Karakter
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang sistem Pendidikan Nasional pada pasal 3, yang menyebutkan bahwa : “Pendidikan nasionala berfungasi mengembangkan kemampuan dan membentuk Karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dan mencerdaskan kehidupan bangsa...” dalam undang undang tersebut secara jelas menyebutkan “Karakter”  terkait dengan fungsi dari pendidikan nasional walaupun tidak jelas mendefinisikan karakter yang dimaksud, sehingga menimbulkan berbagai pengertian mengenai karakter menurut para ahli.
Saptono (2011:23) menjelaskan bahwa pendidikan karakter adalah upaya yang dilakukan dengaan sengaja untuk mengembangkan karakter yang baik (Good Character) berdasarkan kebijakan-kebiajakan inti (Core Virtules) yang secara objektiv baik bagi individu maupaun masyarkat. Kebiajakan-kebijakan inti di sinimerujuk pada dua kebiajakan fundamental dan sepuluh kebiajakan esensial. Saptono juga menjelaskan terdapat  dua kebijakan fundamental yang dibutuhkan untuk membentuk karakter yang baik, yaitu : rasa hormat (Respect) dan tanggung jawab (Responsibility), kedua kebijakan itu merupakan nilai moral fundamental yang harus diajarakan dalam pendidikaan karakter. Rasa hormat berarti mengungkapkan pengharagaan terhadap seseorang atau sesuaatu. Hal itu terwujud dalam tiga bentuk, yaitu rasa hormat terhadap : diri sendiri, orang lain dan segala bentuk kehidupan. Kebiajakan esensial dibutuhkan utnnuk membentuk karakter yang baik, yaitu meliputi sepuluh kebijakan, yaitu : kebijaksanaan (Wisdom), keadilan (Justice), ketabahan (Fortitude), pengembangan diri (Self-Control), kasih (Love), sikap positif (Positive Attitude), kerja keras (Hard Work), intergritas (Intergrity), penuh syukur (Gratitude), dan kerendahan hati (Humility).
Zubaedi (2011:17) meyatakan bahwa pendidikan karakter harus dipahami sebagai upaya menanamakan kecerdasan dalam pemikiran, penghayatan dalambentuk sikap dan pengalaman dalam bentuk prilaku yang sesuaai dengan nilai-nilai luhur yang menjadi jati dirinya, diwujudkan dengan iteraksi dengan Tuhanya, diri sendiri, antar sesama dan lingkunganya. Nilai-nilai luhur tersebut antara lain : kejujuran, kemandirian, sopan santun, kemuliaan sosial, kecerdasan berfikir,  termasuk kepenasaran akan intelektual, dan berfikir logis. Oleh  sebab itu, penanaman pendidikan  karakter tidak bisa hanya sekedar mentransfer ilmu pengatahuan atau melatih suatu keterampilan tertentu.
Pendidikan agama Hindu juga sebagai sub dari pendidikan agama. Menurut Swami Sathya Narayana (dalam Titib, 2003: 7) pendidikan agama Hindu adalah pembentukan karakter manusia (character building), Oleh karena itu, pendidikan agama Hindu pada hakikatnya merupakan suatu upaya untuk membina pertumbuhan jiwa manusia dengan menanamkan ajaran-ajaran agama Hindu menjadi keyakinan serta sebagai landasan segenap kegiatan umat dalam semua perikehidupannya serta membentuk manusia yang memiliki śraddhādan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sehingga memiliki karakter yang humanis dan religius.


C.           Pendidikan Karakter dalam Ajaran Agama Hindu
Pandangan bahwa agama adalah alat untuk mencapai kemuliaan manusia, dan menjadikan manusia bersifat dewata atau menjadi manusia dewasa sudah sangat tegas dalam Hindu. Dalam pelaksanaan keagamaan, tidak bisa terlepas dari Tri Kerangka Dasar Agama Hindu meliputi (1) Tattva (Filsafat), Suśīla (Etika), dan  Ācāra Agama(Upācāra dan Upakara) (Titib, 2007: 25 dalam  Sura 2006: 1).
Apabila dipahami, dihayati dan dilaksanakan akan menjadikan umat Hindu memiliki kepribadian yang baik dan mulia. Hal ini berarti bahwa agama Hindu tidak saja mendidik secara fisik, visual semata, namun secara seimbang melalui jasmani dan rohani. Secara sekala dan niskala untuk memperoleh keseimbangan. Sehingga manusia Hindu memeiliki kepribadian yang mulia, atau mampu berkarakter dewa. Konsep penting lainnya yang perlu ditekankan dalam pendidikan agama Hindu yang menjadi salah satu penekanan dalam ajaran Suśīla adalah Tri Kaya Parisudha, yaitu :
1.           Manacika (berpikir yang baik dan suci),
2.           Wacika (berbicara yang benar), dan
3.           Kayika (berlaksana yang baik dan jujur).
Lebih lanjut dalam agama Hindu juga telah banyak diuraikan bagaimana membentuk pribadi yang berkarakter yang bisa diacu oleh guru pendidikan agama Hindu, sebagaimana diuraikan oleh Soebadrdjo (1992: 75) yang disebut Catur Vidya meliputi: (1) Anwisaki, memiliki wawasan dan kadar keimanan yang kualitatif; (2) Wedatrayi, menghayati dan mengamalakan nilai-nilai religius Hindu secara utuh dan segar; (3) Vartha, senantiasa mengembangkan diri dengan melalui peningkatan budaya kerja. Berkarya penuh kreatif dan inovatif; (4) Dandha, berpartisipasi secara aktif demi terciptanya stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.
Hidup sebagai manusia pada hakekatnya sangat utama, dalam kitab Sārasamuccaya, sloka 4 dijelaskan “Apan iking dadi wwang, uttama juga ya, nimittaning mangkana, wênang ya tumulung awaknya sangkeng sengsara, makasādhanang śubhakarma, hinganing kottamaning dadi wwang ika” yang artinya sesungguhnya menjelma sebagai manusia ini adalah suatu hal yang utama, karena hanya manusialah yang dapat menolong dirinya sendiri dari kesengsaraan, yaitu dengan jalan berbuat baik. Itulah keuntungan menjelma menjadi manusia (Sudharta, 2009: 5).
Agama adalah inner power atau tenaga dalam bagi pemeluknya dalam menghadapi berbagai tantangan hidup (Agastia, 2006: 7). Agama dengan jelas telah memberikan hakikat hidup bagi manusia, yang sesungguhnya merupakan persoalan paling mendasar bagi manusia. Hakikat tujuan hidup dalam agama Hindu diformulasikan dengan kalimat Mokṣartham jagathitaya ca iti dharma. Tujuan hidup adalah untuk mencapai jagathita dan mokṣa. Hal ini kemudian lebih dijabarkan ke dalam apa yang disebut sebagai Catur Purusa Artha: dharma, artha, kāma, dan mokṣa. Tujuan hidup ini kemudian menjiwai tatanan sosial yang disebut catur āśrama(brahmacari, gṛhastha, vānaprasthadan saṅnyāsa) dan catur varṇa(brāhmaṇa, kṣatriya, vaisya dan sudra).
Dengan demikian agama Hindu dengan jelas dan tegas telah menetapkan hakekat tujuan hidup serta jalan atau cara mencapainya, termasuk tatanan masyarakat sebagai sarana untuk mencapainya demi mewujudkan manusia yang berkarakter dewa, baik dan mulia. Maka agama Hindu tidak saja dapat memberi wawasan dan visi yang jelas bagi umat dalam menghadapi kehidupan, tetapi juga akan membangun integritas diri bagi pemeluknya. Dengan kata lain pendidikan agama Hindu memiliki manfaat baik dalam upaya menciptakan individu ber-Karakter sehingga terciptalah generasi muda yang ber-Karakter dan berkualitas tinggi untuk membangun bangsa yang beradab.
Jadi, revitalisasi pendidikan agama Hindu di sekolah harus dimulai dari penyediaan guru agama Hindu yang kompeten, yaitu yang memiliki empat kompetensi pokok seperti di atas. Untuk keberhasilan pembelajaran pendidikan agama Hindu, guru agama Hindu juga harus menguasai metodologi pembelajaran yang baik dan komprehensif didukung oleh sarana dan prasarana pembelajaran yang memadai. Keberhasilan program pembelajaran di sekolah, terutama membangun karakter peserta didik, harus ditanggung bersama oleh semua warga sekolah mulai dari pimpinan sekolah, para guru, para karyawan, serta keterlibatan peserta didik secara aktif. Di samping itu, sekolah harus juga melibatkan orang tua peserta didik dan seluruh masyarakat di sekitar sekolah agar ikut serta mendukung keberhasilan sekolah dalam membangun karakter peserta didiknya.
 




BAB IV
PENUTUP
A.           Kesimpulan
(1) Pendidikan berarti mengajarkan segala hal yang bermanfaat bagi segala kehidupan manusia, baik terhadap segala aktivitas jasmani, pikiran maupun terhadap ketajaman dan kelembutan hati nurani. (2) Pendidikan dapat berbasis pada kebudayaan masyarakat, nilai-nilai agama serta visi dan misi lembaga pendidikan. (3)Pendidikan dapat berjalan secara formal maupun informal. istilah “karakter” berarti mengacu pada tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, ahlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Pendidikan karakter adalah upaya yang dilakukan dengaan sengaja untuk mengembangkan karakter yang baik (Good Character) berdasarkan kebijakan-kebiajakan inti (Core Virtules) yang secara objektiv baik bagi individu maupaun masyarkat. Kebiajakan-kebijakan inti di sinimerujuk pada dua kebiajakan fundamental dan sepuluh kebiajakan esensial.
Pendidikan agama Hindu memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk karakter manusia. Dalam pelaksanaan keagamaan, tidak bisa terlepas dari Tri Kerangka Dasar Agama Hindu, yaitu tattva, suśīla, dan ācāra,apabila dipahami, dihayati dan dilaksanakan akan menjadikan umat Hindu memiliki kepribadian yang baik dan mulia. Selain itu, banyak ajaran dari agama Hindu yang dapat membentuk karakter manusia diantarnya Tri Kaya Parisudha, Catur Marga, Catur Vidya, dan Catur Āśrama.




 


DAFTAR PUSTAKA

S, Tatang. 2012. Ilmu Pendidikan. Bandung : Pustaka Setia
Ebook : Sistem Pendidikan Nasional. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang
Faturrahman, dkk. 2012. Pengantar Pendidikan. Jakarta : Prestasi Pustakaraya
Poerwadarmita, W.J.S. 2007. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka
Saptomo. 2011. Dimensi-dimensi Pendidikan Karakter, Wawasan, Satrategi, dan Langkah Praktis. Jakarta : Erlanngga
Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter, konsepsi dan Aplikasi dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta : Kecana Prenada Media Group
Muslich, Mansnur. 2014. Pendidikan Karakter, Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta : Bumi Aksara
Titib, I Made. 2003. Menumbuhkembangkan Pendidikan Budhi Pekerti Pada Anak dalam Perspektif Agama Hindu. Jakarta: Ganeca Exact.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar